This paper is written by Qorihani and Tien Mulyanthi (Chevening 22/23)
ABSTRAK
Tujuan:
1) Memahami pengalaman pekerja penyandang disabilitas di seluruh tahap dalam lingkaran ketenagakerjaan di sektor formal;
2) Mengetahui upaya pemberi kerja dalam menerapkan dunia kerja yang inklusif;
3) Mendengarkan pengalaman profesionalisme pekerja penyandang disabilitas di sektor swasta.
Metode:
Deskriptif kualitatif dengan alat bantu kuisioner, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk pengumpulan data. Fokus penelitian meliputi pengalaman pada semua siklus pekerjaan. Mulai rekrutmen, wawancara, orientasi, penempatan , serta penilaian. Informan bercerita hal didapati terkait respon subjek perwakilan perusahaan, saran dan prasarana penunjang. Serta kesan yang dirasakan atas situasi tersebut. Informan juga memberikan rekomendasi atas kondisi yang sewajarnya diterima oleh calon dan pekerja disabilitas.
Hasil:
Inklusif dunia kerja terwujud dalam seluruh tahap siklus dalam ketenagakerjaan. yaitu sejak tahap rekrutmen,seleksi, orientasi mempekerjakan sampai penilaian kinerja. Kesemuanya dapat teraplikasi jika semua elemen memenuhi atau mampu mendukung bagi subjek yang beragam seperti perempuan, disabilitas maupun dari kelompok yang berbeda dari mayoritas sumber daya manusia yang ada pada struktur manajemen sebuah perusahaan. Misalnya untuk melibatkan perempuan dengan kekhasannya seksualitasnya misalnya adanya siklus menstruasi yang bisa saja pada berpengaruh pada hormon tubuhnya yang bermanifes pada gejala tidak sehat misalnya keluhan sakit pada tubuhnya yang bisa mempengaruhi kinerja. Maka peraturan di perusahaan harus memungkinkan adanya afirmasi atau pengecualian dengan memberikan waktu istirahat atau cuti haid. Atau pada disabilitas dengan dengan memastikan perusahan menyediakan sara prasarana yang wajar atau layak agar mereka bisa mengakses fasilitas bekerja dengan kondisi fisik yang membutuhkan penunjang untuk bisa produktif sama seperti non disabilitas. Asesmen dari perspektif subjeknya yaitu calon pekerja diperlukan agar pihak perusahaan tidak berasumsi yang berdampak tidak efektif dan efisiennya komunikikasi dan hasil. Semua pihak baik pekerja disabilitaa, maupun manajemen perusahaan harus saling terbuka dalam berkomunikasi. Kesamaan pemahaman sangat dibutuhkan. Misalnya perspektif perlindungan hak asasi disabilitas serta. Sehingga penting untuk perusahaan memiliki program internalisasi tentang hak disabilitas dalam ketenaga kerjaan. Selanjutnya sebaiknya perusahaan memberikan peningkatan kemampuan berkomunikasi yang sesuai dengan keragaman disabilitas karyawan dalam perusahaan tersebut. Misalnya jika ada karyawan tuli. Maka sebaiknya perusahaan memberikan pelatihan kemampuan Bahasa isyarat (Bisindo) serta pemhaman budaya tuli pada seluruh karyawan
Kontribusi:
Memastikan pengalaman pekerja disabilitas didengarkan agar baik perusahaan, maupun pemerintah selalu mendapatkan informasi langsung dari subjek pertama dan tidak berasumsi memaknai inlusivitas dunia kerja yang selama ini masih dari perspektif pihak dari pihak non disabiitas. serta perlahan dapat menghilangkan stgma negatif pada disabilitas. Pada akhirnya partisipasi disabilitas di dunia kerja dapat lebih tinggi. Perusahaan juga dapat meningkatkan peluang mendapatkan karyawan berpotensi dengan loyalitas dari karyawan disabilitas.
Kata kunci: Inklusif, formal, pekerja disabilitas, akomodasi yang layak.
To read or download this paper, please click here: https://tinyurl.com/PekerjaDisabilitasSektorFormal